Opini
Macet Solusi
Walaupun dibarengi keluhan panjang-pendek, kemacetan di jalanan kota besar, termasuk Depok, sudah dianggap biasa. Ada jalan yang macet pada jam-jam tertentu saja, ada pula yang nyaris setiap waktu macet. Ya, ada lancarnya kalau mau menunggu malam atau dini hari.
Kalau bisa memilih solusi berkendara pada waktu-waktu tersebut, mungkin macet tidak jadi masalah. Tetapi, mungkin memang sulit terhindarkan. Kita perlu pergi ke kantor, mengantar anak sekolah, dan pulang ke rumah setelahnya, bersama-sama yang lain.
Solusi lain perlu dicari. Beberapa teman, walaupun punya mobil, memilih menggunakan sepeda motor. Sepeda motor bisa menyelip ke tengah, mepet ke kiri, atau mengambil lajur kanan. Tidak sedikit yang memilih naik trotoar atau kalau lebih berani dan mungkin sedang tergesa-gesa, menyita jalur lawan.
Ketika ada antrean di persimpangan jalan atau persimpangan dengan rel, pengendara sepeda motor bisa masuk ke jalur berlawanan, mumpung kosong. Sepeda motor memang ramping, begitu kita berpikir. Jadi tidak terlalu mengganggu. Perjalanan lebih cepat dan macet teratasi.
Akan tetapi, pengguna sepeda motor yang berpikir demikian ternyata tidak sendiri. Di banyak persimpangan, banyak sepeda motor sudah memenuhi ruas kanan sehingga kendaraan dari arah berlawanan terhenti. Tidak sedikit pengendara mobil yang juga melakukan itu.
Begitu pula di persimpangan rel, pertengahan stasiun Depok Baru dan Depok Lama, karena jaraknya hanya 15 menit misalnya. Walaupun sudah menjadi satu jalur ketika palang kereta membuka, kendaraan di dua ruasnya tidak lantas bisa maju, menunggu jalurnya ”bersih”. Padahal, di belakangnya, macetnya juga lumayan panjang.
Antrean mobil pribadi makin panjang, sebanding dengan makin lakunya kendaraan pribadi. Pilihan kendaraan pribadi juga solusi transportasi yang relatif andal dibandingkan dengan angkot. Dengan menggunakan angkot, waktu tempuh sering kali tidak terduga. Memang, sekarang, jarang saya lihat angkot yang penuh penumpang. Dengan penumpang minim, menjadi wajar jika sopir angkot perlu sejenak menunggu mobilnya terisi.
Katanya, dulu, ketika angkot maréma pada dekade 1990, izin trayek angkot diobral, dengan bisik-bisik, setiap izin trayek ada setorannya. Mungkin tidak perlu dihitung proporsi penumpang dan jumlah angkot. Dan menjadi lebih parah, ketika calon penumpang sudah beralih ke kendaraan pribadi.
Meledaknya penggunaan kendaraan pribadi tampaknya merupakan upaya masyarakat secara mandiri untuk menjawab kebutuhan akan ketepatan waktu dan kenyamanan di jalan. Tetapi, pilihan solusi masing-masing seperti itu bertabrakan di persimpangan.
Sebenarnya, kata Harold Damerow, fungsi pengaturan ada pada sektor pemerintah.
Guru besar pemerintahan ini menyebut pemerintah sebagai ”mekanisme pengendali”. Tentu saja, dalam menjalankan fungsinya itu, pemerintah bukannya tidak memberi jawaban, terutama dengan membangun sistem transportasi umum.
Bus kota biasanya menjadi pilihan utama dan dengan agresif berkampanye. ”Ayo Naik Bus Kota Biar Ga Bikin Macet”, kata tulisan yang ditempel di kaca belakang atau depan bus. Bus kota memang seharusnya bisa menjadi salah satu solusi. Penumpangnya lebih banyak, tempat berhenti tertentu, dan waktu terjadwal.
Meski jika melihat kondisi di Depok, praktiknya tidak seagresif kampanyenya.
Hanya di Depok, bus trans metronya bisa berhenti di mana saja. Pintu besar di tengah badan bus yang tersedia pun tidak pernah terbuka. Takut penumpang jatuh karena belum ada satu pun platform di halte khusus setelah bertahun bus ini hilir mudik. Penumpang antre naik turun lewat pintu depan yang kecil.
Karena ”mekanisme pengendali” belum mampu menipiskan kemacetan, sementara para pejabat juga adalah pengguna jalan yang perlu kenyamanan dan ketepatan waktu –saat mengerjakan tugas-tugas penting memutar birokrasi, meresmikan acara, me-launching program– mereka juga punya solusi sendiri.
Tentu saja, bukan naik kendaraan umum seperti waktu David Cameron menjabat perdana menteri Inggris. Biasanya, solusi yang dipilih para pemimpin eksekutif dan legislatif di sini adalah menggunakan pengawalan. Mereka bisa menyelip, meliuk-liuk, mengambil jalur berlawanan, seperti para pengendara sepeda motor nekat pada pagi dan sore hari.
Macet bertumbuh dari solusi-solusi yang bertemu di persimpangan jalan.
Walaupun dibarengi keluhan panjang-pendek, kemacetan di jalanan kota besar, termasuk Depok, sudah dianggap biasa. Ada jalan yang macet pada jam-jam tertentu saja, ada pula yang nyaris setiap waktu macet. Ya, ada lancarnya kalau mau menunggu malam atau dini hari.
Kalau bisa memilih solusi berkendara pada waktu-waktu tersebut, mungkin macet tidak jadi masalah. Tetapi, mungkin memang sulit terhindarkan. Kita perlu pergi ke kantor, mengantar anak sekolah, dan pulang ke rumah setelahnya, bersama-sama yang lain.
Solusi lain perlu dicari. Beberapa teman, walaupun punya mobil, memilih menggunakan sepeda motor. Sepeda motor bisa menyelip ke tengah, mepet ke kiri, atau mengambil lajur kanan. Tidak sedikit yang memilih naik trotoar atau kalau lebih berani dan mungkin sedang tergesa-gesa, menyita jalur lawan.
Ketika ada antrean di persimpangan jalan atau persimpangan dengan rel, pengendara sepeda motor bisa masuk ke jalur berlawanan, mumpung kosong. Sepeda motor memang ramping, begitu kita berpikir. Jadi tidak terlalu mengganggu. Perjalanan lebih cepat dan macet teratasi.
Akan tetapi, pengguna sepeda motor yang berpikir demikian ternyata tidak sendiri. Di banyak persimpangan, banyak sepeda motor sudah memenuhi ruas kanan sehingga kendaraan dari arah berlawanan terhenti. Tidak sedikit pengendara mobil yang juga melakukan itu.
Begitu pula di persimpangan rel, pertengahan stasiun Depok Baru dan Depok Lama, karena jaraknya hanya 15 menit misalnya. Walaupun sudah menjadi satu jalur ketika palang kereta membuka, kendaraan di dua ruasnya tidak lantas bisa maju, menunggu jalurnya ”bersih”. Padahal, di belakangnya, macetnya juga lumayan panjang.
Antrean mobil pribadi makin panjang, sebanding dengan makin lakunya kendaraan pribadi. Pilihan kendaraan pribadi juga solusi transportasi yang relatif andal dibandingkan dengan angkot. Dengan menggunakan angkot, waktu tempuh sering kali tidak terduga. Memang, sekarang, jarang saya lihat angkot yang penuh penumpang. Dengan penumpang minim, menjadi wajar jika sopir angkot perlu sejenak menunggu mobilnya terisi.
Katanya, dulu, ketika angkot maréma pada dekade 1990, izin trayek angkot diobral, dengan bisik-bisik, setiap izin trayek ada setorannya. Mungkin tidak perlu dihitung proporsi penumpang dan jumlah angkot. Dan menjadi lebih parah, ketika calon penumpang sudah beralih ke kendaraan pribadi.
Meledaknya penggunaan kendaraan pribadi tampaknya merupakan upaya masyarakat secara mandiri untuk menjawab kebutuhan akan ketepatan waktu dan kenyamanan di jalan. Tetapi, pilihan solusi masing-masing seperti itu bertabrakan di persimpangan.
Sebenarnya, kata Harold Damerow, fungsi pengaturan ada pada sektor pemerintah.
Guru besar pemerintahan ini menyebut pemerintah sebagai ”mekanisme pengendali”. Tentu saja, dalam menjalankan fungsinya itu, pemerintah bukannya tidak memberi jawaban, terutama dengan membangun sistem transportasi umum.
Bus kota biasanya menjadi pilihan utama dan dengan agresif berkampanye. ”Ayo Naik Bus Kota Biar Ga Bikin Macet”, kata tulisan yang ditempel di kaca belakang atau depan bus. Bus kota memang seharusnya bisa menjadi salah satu solusi. Penumpangnya lebih banyak, tempat berhenti tertentu, dan waktu terjadwal.
Meski jika melihat kondisi di Depok, praktiknya tidak seagresif kampanyenya.
Hanya di Depok, bus trans metronya bisa berhenti di mana saja. Pintu besar di tengah badan bus yang tersedia pun tidak pernah terbuka. Takut penumpang jatuh karena belum ada satu pun platform di halte khusus setelah bertahun bus ini hilir mudik. Penumpang antre naik turun lewat pintu depan yang kecil.
Karena ”mekanisme pengendali” belum mampu menipiskan kemacetan, sementara para pejabat juga adalah pengguna jalan yang perlu kenyamanan dan ketepatan waktu –saat mengerjakan tugas-tugas penting memutar birokrasi, meresmikan acara, me-launching program– mereka juga punya solusi sendiri.
Tentu saja, bukan naik kendaraan umum seperti waktu David Cameron menjabat perdana menteri Inggris. Biasanya, solusi yang dipilih para pemimpin eksekutif dan legislatif di sini adalah menggunakan pengawalan. Mereka bisa menyelip, meliuk-liuk, mengambil jalur berlawanan, seperti para pengendara sepeda motor nekat pada pagi dan sore hari.
Macet bertumbuh dari solusi-solusi yang bertemu di persimpangan jalan.

1 komentar
Makasih tips & trick nya hehehe
Posting Komentar